Ku Sebut Engkau Ayah

Malam begitu dingin menusuk tulang, mata ini masih ingin mengajak melihat kerlip bintang, suara lalu lalang kendaraan kini berubah dengan nyayian katak dan jangkrik.
Secangkir kopi menemani malamku ini. Sembari melihat pilunya masa lalu, Tiba-tiba terbesit di fikiranku dimanakah Ayahku?. 
Sosok yang aku rindukan, nasihatnya, teguranya, marahnya selalu aku rindukan. 
Hampir 5 tahun aku tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ayah. Bagiku sosok Ayah itu sangat penting apalagi sekarang ini diriku beranjak dewasa, petuah dari seorang Ayah sangat saya butuhkan, tapi Apa?? Itu hanya sebuah agan semata. Diriku mulai bosan dengan keadaanku waktu itu hingga aku memutuskan untuk berpindah tempat. Dengan tekatku aku memutuskan untuk melanjutkan study ku diluar daerah, harapanku.. Aku akan lupa dengan kasih sayanh seorang Ayah yang selalu aku rindukan. 
   Waktu terus berjalan 1 tahun sudah aku berada di perantauan.. Jauh dari keluarga ,setiap hari aku harus memikirkan nasib hidupku, mulai makan, uang kuliah, uang bayar kos dll. Hingga aku akhirnya jatuh sakit, sedih tidak ada saudara didekatku. Aku rasakan kesendirian itu.  Yang bisa aku lakukan adalah berdoa. Aku mencoba melangkahkan kakiku ke Masjid, aku berharap Tuhan akan mempertemukan aku dengan orang yang bisa mengobati rasa rinduku terhadap seorang Ayah. 
  Waktu itu bulan ramadhan datang, bulan dimana semua umat islam meras senang, begitupun dengan ku, itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di perantauan sendirian tanpa teman. 
  Malam itu pertama kali aku ikut sholat tarawih di masjid terbesar dikota itu, hatiku merasa senang , saat aku mengucapkan takbir sholat tarawih tiba2 mataku tefokus kepada seorang bapak2, usianya sekitar 48 tahun dalam benak ku hanya terfikir " andai aku punya ayah seperti itu pasti akan sangat bahagia, orangnya terlihat sopan, berwibawa, dan religius. Hari demi hari aku lalui , tanpa kusadari aku selalu berada didekat beliau, entah mengapa hati ini terus berharap untuk mengenal beliau dan membayangkan beliau adalah ayah saya..

Hari demi hari mulai berjalan ...
Lewat plat nomor aku mengetahuo identitas beliau, lewat itu juga aku mulai mencari informasi lebih tentang beliau.
Lewat pesan media sosial akhirnya aku bisa berkenalan, saling sapa , dan tanya kabar .
Sungguh begitu bahagia rasa hatiku..

Hingga diriku semakin dekat dengan beliau . Rasa kasih sayang mulai ditunjukkan beliau yang sebelumnya saya belum pernah mendapatkanya..

Hingga suatu saat momen yang saya harapkan datang, beliu berkenan untuk aku panggil dengan sebutan " ayah " ..
Ya ... Hatiku begitu senang..
Hidup saya merasa lengkap.
Hadir sosok ayah yang selama ini aku harapkan memang secara bilogis beliu bukan siapa2 ku . Tapi secara hati dan fikiran beliau Adalah Ayah yang akan selalu ada dalam kehidupanku..

Apa aku salah menyebut Engkau "Ayah"...

Komentar